Mengapa lavender menjadi simbol queer?

picture of Julia Anderson
Julia Anderson
Diterbitkan:
Diperbarui:

Simbol queer lavender sudah ada sejak lebih dari seratus tahun lalu. Pada tahun 1920-an, warna lavender telah dikaitkan dengan cinta sesama jenis di dunia Barat. Warna ini berada di antara merah muda dan biru. Hal itu memberinya hubungan alami dengan kehidupan yang melampaui garis gender yang kaku. Jika Anda pernah melihat lavender di acara pride, Anda sedang melihat salah satu simbol tertua dalam budaya LGBTQ.

Ketika saya pertama kali melihat tangkai lavender dijual di samping bendera pelangi di pameran pride, saya harus mencari tahu alasannya. Satu stan menampilkan garis waktu lengkap sejarah lavender LGBTQ yang membentang lebih dari 100 tahun. Orang-orang yang lebih tua di acara itu mengenakan pin lavender dengan bangga. Mereka menceritakan kisah tentang apa arti warna itu bagi mereka di dekade-dekade yang lebih sulit. Hari itu mengubah cara saya memandang tanaman sederhana ini dan akarnya yang dalam dalam kisah seluruh komunitas.

Beberapa peneliti menelusuri hubungan pertama ke penyair Sappho. Dia menulis tentang kekasih yang dimahkotai lavender di pulau Lesbos di Yunani kuno. Pada awal 1900-an, kalangan sastra menggunakan warna ini sebagai kode untuk cinta sesama jenis. Istilah "lavender marriage" (pernikahan lavender) mulai digunakan untuk pernikahan yang menyembunyikan jati diri salah satu pasangan. Bintang film dan tokoh publik menggunakan pengaturan ini untuk melindungi karier mereka. Makna warna lavender sebagai simbol queer tumbuh dari tindakan-tindakan diam-diam demi bertahan hidup ini.

Lavender scare (ketakutan lavender) pada tahun 1950-an mengubah simbol ini menjadi gelap. Kampanye ini berjalan bersamaan dengan Red Scare. Kampanye ini menyasar pekerja federal LGBTQ di seluruh negeri. Pejabat memecat ribuan orang berdasarkan siapa yang mereka cintai. Mereka menggunakan kata "lavender" sebagai label untuk orang-orang yang mereka sebut berisiko. Ini adalah salah satu bab paling kejam dalam sejarah hak sipil Amerika.

Namun komunitas ini mengambil rasa sakit itu dan mengubahnya menjadi kekuatan. Dari pengalaman saya membaca tentang era ini, Anda menemukan kisah keberanian di setiap sudut. Pada tahun 1970-an, para aktivis di Boston menciptakan lavender rhino (badak lavender) sebagai simbol protes. Mereka memilih badak karena hewan ini kuat dan menyerang keras saat didorong. Bendera dan pin lavender menjadi alat kebanggaan, bukan rasa malu. Anda bisa melihat pergeseran itu di acara pride mana pun saat ini. Merebut kembali warna yang pernah digunakan sebagai senjata memberinya bobot yang lebih besar lagi.

Saat ini Anda melihat lavender di seluruh budaya LGBTQ. Warna ini muncul di spanduk pride, taman queer, dan kaos yang merujuk pada era Lavender Menace. Seniman menggunakan warna ini di sampul buku dan seni album. Pasangan sesama jenis memasukkannya ke dalam dekorasi pernikahan mereka. Anda bisa menanam lavender di halaman sendiri sebagai cara menghormati sejarah yang kaya ini. Tanaman yang dulu digunakan untuk menandai orang kini mekar sebagai tanda cinta dan kekuatan.

Jika Anda ingin mempelajari lebih lanjut tentang sejarah ini, kunjungi pusat LGBTQ lokal Anda atau cari buku tentang era lavender scare. Anda akan menemukan kisah keberanian dan perebutan kembali yang lebih dalam dari yang diketahui kebanyakan orang. Setiap bunga ungu di kebun Anda bisa mengingatkan Anda pada orang-orang yang berjuang mengubah tanda aib menjadi lencana kehormatan. Itulah kekuatan sesungguhnya di balik simbol queer lavender saat ini.

Baca artikel lengkap: Panduan Bunga Lavender: Jenis, Perawatan, dan Kegunaan

Lanjutkan membaca