Empat jenis tanah utama adalah berpasir, liat, debu, dan lempung. Tanah berpasir cepat menyerap air dan terasa kasar. Tanah liat menahan air erat dan terasa lengket. Tanah debu halus dan subur tetapi mudah terbawa hujan. Tanah lempung menyeimbangkan ketiga jenis partikel dan memberikan kondisi tumbuh terbaik bagi tanaman Anda.
Ketika saya pertama kali menguji tanah kebun menggunakan metode pita, hasilnya mengejutkan saya. Anda ambil segenggam tanah lembap dan remas menjadi bola. Lalu dorong di antara ibu jari dan telunjuk untuk membentuk pita. Tanah saya membentuk pita sepanjang sekitar dua inci sebelum retak. Itu menunjukkan saya memiliki campuran lempung berliat. Jika pita Anda melewati tiga inci, Anda memiliki tanah liat berat. Jika tidak bisa terbentuk sama sekali, Anda memiliki tanah berpasir.
Jenis-jenis tanah ini berkaitan dengan ukuran partikel. Pasir adalah yang terbesar dan Anda bisa melihat setiap butirannya dengan mata telanjang pada ukuran 0,05 hingga 2,0 mm. Debu berada di kisaran tengah dan terasa seperti tepung di jari Anda. Liat adalah yang terkecil pada ukuran di bawah 0,002 mm. Partikel liat yang sangat kecil itu saling mengunci dan menghalangi air mengalir melalui bedengan kebun Anda.
Menurut pengalaman saya, uji stoples memberikan gambaran paling jelas tentang komposisi tanah Anda. Saya menguji sampel dari tiga titik di halaman saya musim semi lalu dan masing-masing menunjukkan rasio berbeda. Bedengan depan saya sebagian besar tanah berpasir yang terlalu cepat mengalirkan air. Kebun belakang saya cenderung tanah liat yang menggenang setelah setiap hujan. Bedengan samping dekat tumpukan kompos saya memiliki lempung yang paling seimbang yang pernah saya lihat di properti saya.
Tanah Berpasir
- Drainase: Air melewatinya dengan cepat karena partikel besar meninggalkan celah besar, membuat tanah berpasir rentan kekeringan.
- Nutrisi: Pupuk tercuci sebelum akar sempat menyerapnya, jadi Anda perlu memberi pupuk dalam dosis kecil sepanjang musim.
- Tanaman terbaik: Sayuran akar seperti wortel dan lobak mudah menembus tanah berpasir yang gembur tanpa hambatan keras.
Tanah Liat
- Retensi air: Tanah liat menahan air dan nutrisi dengan erat, yang membantu saat kering tetapi bisa menenggelamkan akar saat musim basah.
- Kemudahan pengerjaan: Liat berat berubah menjadi gumpalan lengket saat basah dan bata retak saat kering, membuatnya sulit digali.
- Perbaikan: Menambahkan kompos selama beberapa musim memecah tanah liat dan memberi ruang bagi akar Anda untuk menyebar.
Tanah Debu
- Kesuburan: Tanah debu termasuk jenis paling subur karena partikel berukuran sedangnya menahan nutrisi sambil tetap mengalirkan air.
- Risiko erosi: Partikel debu yang halus mudah terbawa hujan deras, jadi Anda perlu mulsa atau penutup tanah di lereng.
- Tekstur: Gosok tanah debu di antara jari Anda dan rasanya seperti bedak tabur, halus tanpa butiran kasar atau lengket.
Tanah Lempung
- Keseimbangan: Tanah lempung mencampurkan sekitar 40% pasir, 40% debu, dan 20% liat untuk menciptakan media ideal bagi tanaman kebun Anda.
- Performa: Drainasenya cukup baik untuk mencegah busuk akar tetapi cukup menahan kelembapan dan nutrisi agar tanaman Anda tetap tercukupi.
- Emas berkebun: Kebanyakan penanam menghabiskan bertahun-tahun menambahkan amandemen tanah untuk mendekati lempung karena tanah ini cocok untuk menanam apa saja.
Coba uji stoples sendiri di rumah untuk mengetahui jenis tanah Anda. Isi stoples mason ukuran satu liter sepertiga penuh dengan tanah kebun dan tambahkan air hingga penuh. Kocok keras selama dua menit dan diamkan selama 24 jam. Pasir mengendap di dasar lebih dulu. Debu membentuk lapisan tengah. Liat berada di atas sebagai lapisan terakhir yang mengendap. Ukur setiap lapisan dan Anda akan tahu persis komposisi tanah di kebun Anda.
Baca artikel lengkap: Panduan Media Tanam Pot untuk Pemula